Main Article Content

Abstract

Program siaran interaktif mendorong keterbukaan komunikasi, sekaligus muncul harapan bagi  masyarakat bisa berkomunikasi dengan perorangan dan lembaga yang bertanggungjawab terhadap pelayanan publik, terutama dalam suasana demokratisasi yang sedang berproses. Hal tersebut seperti disampaikan Jurgen Habermas dalam Teori Public Sphere bahwa ruang public memberikan peran yang penting dalam proses demokrasi di setiap negara. Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui serta menggali lebih dalam mengenai program siaran interaktif Radio Mayangkara untuk  meningkatkan pelayanan publik di Kota Blitar dengan studi kasus program Lang Lang Kota Radio Mayangkara FM . Hal  ini dilatarbelakangi Lang Lang Kota sebagai pelopor siaran interaktif di Kota Blitar yang mampu bertahan sampai saat ini dengan menghadirkan konsep citizen journalism.


Jenis penelitian yan digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Sasaran penelitian adalah Radio Mayangkara 101 FM dengan Program Siaran Interaktif Lang Lang Kota. Metode pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program siaran interaktif Lang Lang Kota merupakan ruang publik dengan tetap mengedepankan netralitas dalam siarannya. Peran serta, kepedulian masyarakat terhadap layanan publik dan timbal balik yang diberikan instansi atau lembaga penyedia layanan publik menjadi kekuatan utama dalam siaran interaktif Lang Lang Kota. Sesuai dengan slogannya kritis solutif , Lang Lang Kota menanggapi berbagai informasi dan kasus yang disampaikan dengan kritis dan mengupayakan adanya solusi. Radio Mayangkara melalui Lang Lang Kota juga mengedukasi masyarakat dalam menyampaikan pendapat atau mengkritisi sebuah permasalahan.


 

Keywords

Siaran Interaktif, Ruang Publik, Pelayanan Publik, Lang Lang Kota, Radio Mayangkara

Article Details

How to Cite
Panuju, R. (2020). Siaran Layanan Publik Radio Mayangkara FM Kota Blitar. KOMUNITAS, 11(1), 59-78. https://doi.org/10.20414/komunitas.v11i1.1954

References

Effendy, Onong Uchjana. (1994). Ilmu Komunikasi:Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Habermas, J. (1989). The Structural Transformation of the Public Sphere. (trans) Thomas Burger, Britain: Polity Press.
Habermas, J. (1996). Between fact and norm, diterjemahkan oleh William Rehg, The MIT press, New Baskerville.
Hardiman, F.B. (2009). Demokrasi Deliberatif: Menimbang ‘Negara Hukum’ dan ‘Ruang Publik’ dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas, Yogyakarta: Kanisius.
Moleong, L.J (2011). Metode Penelitian Kualitatif , Edisi Revisi. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
McQuail, Denis. (2000). Mass Communication Theory. London: Sage.
Morissan. (2011). Manajemen Media Penyiaran, Strategi Mengelola Radio, dan Televisi, Jakarta : Kencana .
Panuju, R. (2018). Pengantar Studi Ilmu Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Mediagroup.
Romli, Asep Syamsul M. (2009). Dasar - Dasar Siaran Radio Basic Announcing. Bandung: Nuansa.
JURNAL dan WEBSITE
Effendy, Rohmat (2014). Program Siaran Interaktif (Talk Back Radio) Sebagai Ruang Publik Masyarakat Untuk Mengembangkan Demokrasi Lokal: Studi Pada Program ”Citra Publika” Radio Citra 87,9 FM Kota Malang. Jurnal komunikasi, ISSN ,Vol. 9, No 1.
Prasetyo, Antonius Galih (2012). Menuju Demokrasi Rasional: Melacak Pemikiran Jurgen Habermas tentang Ruang Publik”, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol.16, No.02
Tricana, Deny Wahyu, (2013) . Media Massa dan Ruang Publik (public sphere), Sebuah Ruang yang Hilang.Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
http://www.radiojatim.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3&Itemid=188 / Diakses pada 20 Desember 2019
UU Nomer25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
UU nomer 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
Wawancara