Main Article Content

Abstract

Abstrak: Masjid dilihat secara epistimologis maupun sosiologis didirikan dengan tujuan utama sebagai pusat peribadatan dan pusat kegiatan peradaban umat Islam. Dan secara historis fungsi masjid sebagai pusat peribadatan lahir bersamaan dengan dakwah  Nabi Muhammad saw.  Masyarakat Lombok yang terkenal dengan semangat keberagamaan yang tinggi keberadaan masjid dapat dijumpai di setiap penjuru desa dan bahkan dasan. Pada satu sisi, kesadaran membangun sebuah masjid merupakan wujud dari pemakmuran masjid secara materil, namun di sisi lain, secara materil pemakmuran masjid seringkali tidak berjalan seirama dan berdampingan. Oleh karenanya, sangat banyak kita menemukan masjid tanpa banyak jamaah seperti rumah mewah tanpa penghuni. Penelitian yang berlokasi di Mataram ini, dan khusus pada beberapa lingkungan yang terdapat di dalamnya dua masjid, yaitu wilayah Dasan Cermen, Karang Bedil-Punia, Karang Baru, dan Babakan. Sumber utama penelitian ini adalah dari para tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh disimpulkan motif pembangunan masjid; pertama menimbulkan integrasi masyarakat dan bahkan menjadikan mereka semakin kuat dan solid, kedua menimbulkan disintegrasi, yaitu 1) kelompok semu yang mempunyai kepentingan sama; 2) kelompok kepentingan yang diwakili oleh pendukung keberadaan masjid kedua dan masjid ketiga; dan 3) kelompok konflik yang diwakili oleh kelompok pendukung ketiga.


Abstract: Masjid epistimologically and sociologically is founded with the main purpose as center of worship and center of civilization Moslem’s activity. Historically the function of masjid as the center of worship was born simultaneously with the Prophet Muhammad's dawah as well. Within Lombok people which are famous for the high religious spirit, the existence of masjid can be found in every corner of the village and even sub-village. On one hand, the awareness to build a masjid is a manifestation of the masjid’s prosperity in a material way. But on the other hand, materially the masjid’s prosperity often does not run in rhythm and side by side. Therefore, there are many mosques without it’s pilgrims like a luxury homes without it’s occupants. The study is located in Mataram, and specialized in several area which contained two masjids, namely Dasan Cermen, Karang Bedil-Punia, Karang Baru, and Babakan. The main sources of this research are from religious leaders, community leaders, masjid administrators, and government. Based on the data obtained, it is concluded the motive of masjid construction, the first it leads to the society integration and even makes them stronger and more solid; the second it leads to disintegration, namely 1) the false groups having the same interests; 2) the interest groups represented by supporters of the second masjid and the third masjid; and 3) the conflict groups represented by third supporter groups.

Keywords

masjid integrasi umat disintegrasi umat pusat peribadatan pusat gerakan sosial

Article Details

References

Aboebakar, Sedjarah Mesjid dan Amal Ibadah di dalamnja, Banjarmasin: Fa. Adil, 1955.
Ahmed, Akbar S., “Masjid dalam Kancah Politik”, dalam Jhon L. Esposito, Ensiklopedi
Oxpord Dunia Islam Modern, Jilid 3, terj. Eva Y.N., dkk., Bandung: Mizan, 2001.
al-Jaziri, Abdurrahman bin Muhammad ‘Awadh, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba‘ah,
Mesir: Dar Ibn Haitam, tt.. Bartholomew, John Ryan, Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak, terj. Imron Rosyidi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001.
Campo, Juan Eduardo, “Sejarah Perkembangan Masjid” dalam Jhon L. Esposito, Ensiklopedi Oxpord Dunia Islam Modern, Jilid 3, terj. Eva Y.N., dkk., Bandung: Mizan, 2001.
Fakultas Dakwah IAIN Mataram-Kemenag NTB, Peta Dakwah NTB, (Mataram: Fakultas Dakwah IAIN Mataram-Kemenag NTB, 2010), hal. 118.
Fisher, Simon, Mengelola Konflik Ketrampilan dan Strategi Untuk Bertindak, Alih Bahasa, S.N. Karikasari dkk, Jakarta: The British Council Responding to Conflict, tt..
Gaffney, Patrick D., “Masjid di Tengah-tengah Masyarakat”, dalam dalam Jhon L. Esposito, Ensiklopedi Oxpord Dunia Islam Modern, Jilid 3, terj. Eva Y.N., dkk., Bandung: Mizan, 2001.
Guritno, G.A., “Berkah Air Kolam Benga”, dalam Gatra: Geliat Negeri Sejuta Masjid, Edisi Khusus Lebaran 2005, h. 98-99.
Hambali, TGH. M. Shaleh, Ta‘lim ash-Shibyan bi Ghayah al-Bayan, Lombok: Pustaka Lombok, 2010.
Harisyah, Rudi (ed), Sejarah Masjid-masjid Kuno di Indonesia, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Depag, 1999.
Iskandar, Mengenal Sekarbela Lebih Dekat, Yogyakarta: Mahkota Kata, 2011. Kemenag Mataram, Data Masjid Tahun 2009.
Mansur, Ahmad Taqiuddin, NU Lombok: Sejarah Terbentuknya Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, Lombok Barat: Pustaka Lombok, 2008.
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasain, 1996.
Pulungan, J. Suyuti, “Masjid” dalam Azyumardi Azra, dkk., Ensiklopedi Islam, Edisi Baru, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2005.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam, (terj. Alimandan), Jakarta: Kencana, 2007, cet. ke-4. Syakur, Ahmad Abd., Islam dan Kebudayaan: Akulturasi Nilai-nilai Islam dalam Budaya
Sasak, Yogyakarta: Penerbit Adab Press, 2006. Waardenburg, Jacques, “Masjid di Dunia Pendidikan”, dalam Jhon L. Esposito, Ensiklopedi Oxpord Dunia Islam Modern, Jilid 3, terj. Eva Y.N., dkk., Bandung: Mizan, 2001.
Zakaria, Fath., Mozaik Budaya Orang Mataram, Mataram: Sumurmas al-Hamidi, 1998.