Ketiadaan Otoritas Terpusat dalam Fenomena Kontemporer di Indonesia :Kritik Terhadap Teori Otoritas Max Weber
Main Article Content
Abstract
This article presents an analysis result on contemporary phenomenon in Indonesia by sociological approach. This states that Ulama or kiai who were formerly the only religious authorities fused religious purity in political interest. This gives negative influence for religious authority itself. Substantive divine will is forced to submit to the will of individual or certain group. So Islam which is previously inclusive and moderat melts to exclusive and discriminative acts. The distance between religious goals to rahmatan lil-’alamin and individual political interest
has been eroded (hyper-reality). Therefore, society has not trusted to the traditional authority and rational-legal authority. In actual fact, authority construction of Weber is nothing.
Downloads
Article Details
References
Abdillah, Z. Ulama Antara Otoritas Kharismatik dan Otoritas Legal-Rasional: Studi Kasus Ustaz Haji Muhammad Zaini Djalaluddin. Jurnal Al-Hikmah. 8 (1) 2014
Achidsti, S. A. 2015. Kiai dan Pembangunan Institusi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Arifin, A. Z. Transmitting Charimsa: Re-Reading Weber through the Traditional Islamic Leader in Modern Java. Jurnal Sosiologi Refliektif. 9 (2) 2015
Choiron, A. Islam dan Masalah Kemanusiaan Perspektif Pendidikan Pembebasan. Jurnal Edukasia: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. 12 (91) 2017.
dan Perjuangannya Morgan, Peggy dan Clive A. Lawton (Ed.). Ethical Issues in Six Religious Traditions. United Kingdom: Edinburgh
Fuad, I. Z. , dkk. Persepsi Dan Ketaatan Umat Islam Terhadap Ulama. Jurnal Penelitian. 7 (1) 2010.
Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis
Jinan, M. Intervensi New Media Dan Impersonalisasi Otoritas Keagamaan di Indonesia. Jurnal Komunikasi Islam. 03 (02) 2013.
Kadi. Menjadi Wakil Tuhan (Memahami Pemikiran Khalid M. Abou El Fadl Tentang Konsep Otoritas Penafsir Pesan Tuhan). Jurnal Al- Ihkam. 7 (1) 2012.
Khaled, El-F. M. A. 2003. Melawan “Tentara Tuhan”; Yang Berwenang dan yangSewenang-Wenang dalam Wacana Islam. Jakarta: Serambi
____________________. 2004. Atas Nama Tuhan. Dari Fikih Otoriter Ke Fikih Otoritatif. Jakarta: Serambi
Kuswandi, Iwan. 2011. Ulama Negosiator Pesantren; Teladan dan Pengalaman Hidup KH. Moh Tidjani Djauhari, MA. Yogyakarta: Pondokmas
Maarif, A. S. 2006. Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara: Studi tentang Perdebatan Dalam Konstituante. Jakarta: LP3ES
Makin, A. 2003. Anti-Kesempurnaan (Membaca, Melihat Dan Bertutur Tentang Islam). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mas’ud, A. 2006. Dari Haramain ke Nusantara. Jejak Intelektual Arsitek Pesantren. Jakarta: Kencana
Masyhuri, A. 2017. Para Kiai Pesantren dari Zaman ke Zaman: Pemikiran
Mushonnif, A. Fragmentasi Otoritas Antara Organisasi Pemerintah dan Organisasi Keagamaan Dalam Penentuan Awal Bulan Islam. Jurnal Al-Hukama: The Indonesian Journal of Islamic Family Law. 03 (02) 2013.
Nasr, S. H. 2015. Islam dalam Cita dan Fakta. Yogyakarta: Gading Publisher
Post-Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius
Ritzer, G. 2012. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rohmanu, A. Human Agent Dalam Tradisi Fikih: Studi Relasi Hukum Islam dan Moralitas Perspektif Abou El Fadl. Jurnal Kodifikasia. 7 (1) 2013.
Rumadi. Islam Dan Otoritas Keagamaan. Jurnal Walisongo. 20 (1) 2012.
Sarup, M. 2003. Post-Strukturalism and Postmodernism: Sebuah Pengantar Kritis. Yogyakarta: Jendela
Silvia D. dan Linda A. Kepercayaan Mahasiswa Terhadap Ustadz: Pendekatan Indigenous Psikologi. Jurnal Psikologi. 10 (2) 2014.
Susanto, E. Ustadz: Genre Baru Dalam Struktur Budaya Masyarakat Madua. Jurnal Karsa: Journal of Social and Islamic Culture. XV (1) 2009.
Transformatif. Yogyakarta: Ircisod.
Weber, M. 2009. Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yudi (Ed.). 2018. Paradigma Baru Pesantren; Menuju Pendidikan Islam