The application of "nyanggit ngathok" batik patterns on batik fabric in the Klampar batik village umkm as a batik tourism attraction in Madura

Authors

  • Urip Wahyuningsih Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
  • Indarti Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
  • Yulistiana Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
  • Ratna Suhartini Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
  • Andang Widjaja Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia
  • Bimo Yatna Anugerah Ramadhani Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.20414/transformasi.v20i1.9389

Keywords:

nyanggit nggathok, UMKM, klampar batik village, aesthetic, batik fabric efficiency

Abstract

[Bahasa]: Kemunculan industri batik saat ini dalam rangka memenuhi kebutuhan pangsa pasar yang semakin berkembang. Batik berpola Nyanggit Nggathok adalah pola dari motif batik yang yang motifnya tidak penuh, dan ditempatkan pada lokasi tertentu berdasarkan pola bagian busananya, sehingga setelah menjadi busana akan Nggathok (bahasa Jawa) atau bertemu pola motifnya. Hal ini akan menambah nilai estetis dari busana batik dan efisien pada penggunaan kain. Pengrajin Kampung Wisata Batik Klampar dalam pembuatan motif batik masih menganut pola tradional  sehingga inefisiensi waktu dan biaya. Untuk itu perlu pengetahuan dan pelatihan membuat motif batik berpola Nyanggit Nggathok. Tujuan dari kegiatan ini adalah: (1) Pemberian pengetahuan dan pelatihan membuat motif batik berpola Nyanggit Nggathok pada pengrajin batik di Desa Klampar (2) Pengrajin mampu menekan biaya produksi (3) Pengembangan motif batik khususnya pada tukang gambar. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan dengan jumlah peserta 10 pengrajin batik. Hasil penelitian pada penilaian kesesuaian bentuk motif 100% sesuai, kesesuaian ukuran motif 100% sesuai dan kesesuaian posisi motif pada pola 90% sesuai. Pada kriteria peletakan pola bermotif sesuai arah serat kain dan kriteria efisiensi penggunaan bahan (jarak antar bagian-bagian pola) 80% sesuai. Hal ini menunjukkan bahwa peserta hampir semuanya memahami peletakan pola bermotif dan efisiensi penggunaan kain. Selanjutnya pada penilaian pelaksanaan pelatihan 70% sangat baik, 26% baik dan 4% cukup. Pada aspek materi pelatihan 73% kategori sangat baik, 25% baik dan 3% cukup. Ditinjau dari aspek Narasumber, sangat baik sebesar 78% dan baik 23%.  Kegiatan ini berimplikasi pada peningkatan kualitas estetika produk batik serta penekanan biaya produksi pada pemakaian kain. Diharapkan hal ini dapat lebih luas diterapkan pada banyak industri batik untuk peningkatan mutu dan produksinya.

Kata Kunci: nyanggit nggathok, UMKM, kampung batik klampar, estetis, efisiensi kain batik

[English]: The emergence of the batik industry today is to meet the needs of the increasingly growing market share. The Nyanggit Nggathok patterned batik is a batik motif pattern that is not fully covered but strategically placed in specific areas based on the garment's pattern, ensuring that the motifs align or "Nggathok" (Javanese for "match") when the garment is assembled. This will add aesthetic value to batik clothing and be efficient in the use of fabric. Artisans in the Klampar Batik Tourism Village adhere to traditional patterns, leading to inefficiencies in time and cost. Thus, there is a need for knowledge and training on creating Nyanggit Nggathok patterned batik. The objectives of this activity are: (1) To provide knowledge and training on making Nyanggit Nggathok patterned batik to batik artisans in Klampar Village, (2) To enable artisans to reduce production costs, and (3) To develop batik motifs, especially among pattern makers. The method used in this activity was a training program involving ten batik artisans. Research results on the suitability of the motif form show that 100%, 100% of the motif sizes and 90% of the motif positions on the pattern are accurate. In the criterion of motif placement according to the fabric grain direction and material efficiency (spacing between pattern pieces), 80% were appropriate. This indicates that most participants understand the placement of patterned motifs and the efficient use of fabric. Furthermore, the evaluation of the training implementation showed that 70% rated it as excellent, 26% as good, and 4% as fair. Regarding the training content, 73% rated it as excellent, 25% as good, and 3% as fair. Reviewed the trainer's aspect, 78% rated them as very good and 23% as good. This activity has implications for improving the aesthetic quality of batik products while reducing production costs related to fabric usage. It is hoped it can be applied more widely across various batik industries to enhance their quality and production.

Keywords: nyanggit nggathok, UMKM, klampar batik village, aesthetic, batik fabric efficiency

Downloads

Download data is not yet available.

References

Amalia, E. D. (2022). Tinjauan Etika Bisnis Islam Terhadap Jual Beli Pada UD. Aneka Batik Di Desa Klampar Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan. Bachelor's Thesis, Institut Agama Islam Negeri Madura. Diambil kembali dari http://etheses.iainmadura.ac.id/3319/

Dessler, G. (2020). Human Resource Management (16th ed.). Pearson.

Inspectorate General of the Ministry of Education and Culture. (2023). Menilik Sejarah Batik, Salah Satu Duta Budaya Indonesia. Menilik Sejarah Batik, Salah Satu Duta Budaya Indonesia. Diambil kembali dari https://itjen.kemdikbud.go.id/web/menilik-sejarah-batik-salah-satu-duta-budaya-indonesia/

Jayanti, S. D., & Nasution, N. (2021). Sentra Penjualan Batik Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan Tahun 2009-2014. Avatara, e-Journal Pendidikan Sejarah, 11. Diambil kembali dari https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/41228

Ministry of Industry of the Republic of Indonesia. (2022). Kemenperin Fasilitasi Sertifikasi Batikmark Bagi 50 Industri Batik. Kemenperin Fasilitasi Sertifikasi Batikmark Bagi 50 Industri Batik. Diambil kembali dari https://kemenperin.go.id/artikel/23598/

Noe, R. A. (2020). Employee Training & Development (8th ed.). McGraw Hill Education.

Prasetyaningrum, M. E., & Trilaksana, A. (2020). Perkembangan Batik Tulis di Desa Klampar Kabupaten Pamekasan Tahun 2009-2017. Avatara, e-Journal Pendidikan Sejarah, 8. Diambil kembali dari https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/32037

Pratiwi, D. (2007). Pola Dasar Dan Pecah Pola Busana (3 ed.). Yogyakarta: Kanisius.

Rakhmawati, Y. (2016). Batik Madura: Heritage Cyberbranding. Jurnal Komunikasi, 10, 57. doi:10.21107/ilkom.v10i1.1840

Rifaah, I. (2020). Analisis Komposisi Motif Kain Batik yang Berefek pada Visual Kemeja Pria. Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan Dan Batik, 2, A05. Diambil kembali dari https://proceeding.batik.go.id/index.php/SNBK/article/view/58

Sadyah, H., Purwitasari, D., & Suciati, N. (2013). Framework optimalisasi tata letak pola busana pada kain batik dengan mempertimbangkan keserasian motif. Scan : Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi, 8, 7–16. Diambil kembali dari http://eprints.upnjatim.ac.id/id/eprint/6451

Sakdiyah, H. (2017). Analisis penerapan enviromental management accounting (ema) pada RSUD dr. H. Slamet Martodjirjo Pamekasan. Performance: Jurnal Bisnis & Akuntansi, 7, 1–18. doi:10.24929/Feb.v7i1.343

Siregar, A. P., Raya, A. B., Nugroho, A. D., Indana, F., Prasada, I. M., Andiani, R., . . . Kinasih, A. T. (2020). Upaya Pengembangan Industri Batik di Indonesia. Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah, 37. doi:10.22322/dkb.v37i1.5945

Suharwati, S. I. (2019). Pengembangan industri batik tulis sebagai potensi daerah (studi kasus di desa klampar Kabupaten Pamekasan). J-PIPS (Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial), 6, 13. doi:10.18860/jpips.v6i1.7822

Wahyuningsih, U., Indarti, I., Yulistiana, Y., Sari, F. I., Salsabillah, L., & Fatmawati, Y. Z. (2023). Diversification of Patterned Batik Products (Nyanggit Motif) in Clothing as an Alternative to the Competitiveness of Small and Medium Batik Enterprises. Dalam Advances in Social Science, Education, and Humanities Research (hal. 1309–1317). Atlantis Press SARL. doi:10.2991/978-2-38476-008-4_140

Wening et al. (2015). Pengembangan produk dan strategi pemasaran busana batik bantulan dengan stilasi motif ethno modern. Jurnal Penelitian Humaniora, 18. doi:10.21831/hum.v18i1.3271

Widodo, W., Soekarba, S. R., & Kusharjanto, B. (2021). Pemaknaan Motif Truntum Batik Surakarta: Kajian Semiotik Charles W. Morris. Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa, 9, 197–210. doi:https://doi.org/10.15294/sutasoma.v9i2.51542

Zahro, S., Mustikasari, H., Gunawan, V., Nurhadi, D., & Mafula, A. (2022). Pendampingan Ketrampilan Menjahit Halus pada Masyarakat Dusun Wiloso, Desa Gondawangi, Kabupetan Malang. Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 18(2), 330-339. https://doi.org/10.20414/transformasi.v18i2.5178

Downloads

Published

2024-06-30