BATAS KEWAJIBAN NAFKAH SUAMI DALAM PERKARA PERCERAIAN AKIBAT TUNTUTAN GAYA HIDUP: STUDI PUTUSAN NO.158/PDT.G/2026/PA.PT
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis batas kewajiban nafkah suami dalam perkara perceraian akibat tuntutan gaya hidup, dengan menjadikan Putusan Pengadilan Agama Pati No. 158/Pdt.G/2026/PA.Pt sebagai objek kajian. Masalah utama yang dijawab adalah bagaimana konstruksi normatif batas kewajiban nafkah suami dalam hukum perkawinan Islam Indonesia, bagaimana pertimbangan yuridis dan non-yuridis hakim dalam menilai tuntutan gaya hidup sebagai pemicu perceraian, serta bagaimana kesesuaian putusan tersebut dengan prinsip keadilan, kepatutan, dan proporsionalitas nafkah. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Bahan hukum primer, sekunder, dan tersier dikumpulkan melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara kualitatif melalui penafsiran gramatikal, sistematis, dan teleologis serta evaluasi preskriptif terhadap pertimbangan hakim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan No. 158/Pdt.G/2026/PA.Pt secara yuridis telah sejalan dengan hukum positif karena hakim tidak menempatkan tuntutan gaya hidup sebagai alasan perceraian yang berdiri sendiri, melainkan sebagai fakta pemicu perselisihan dan pertengkaran terus-menerus. Namun, putusan tersebut belum sepenuhnya merumuskan tolok ukur yang jelas mengenai pendapatan suami, besaran nafkah yang telah diberikan, kebutuhan riil istri, dan batas antara kebutuhan layak dengan tuntutan konsumtif. Keterbatasan prosedural perkara verstek juga memengaruhi kedalaman pertimbangan karena hakim hanya memperoleh keterangan dari pihak yang hadir, meskipun kewajiban pembuktian tetap harus dijalankan secara cermat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kewajiban nafkah suami harus dimaknai secara proporsional, yakni melindungi hak istri atas nafkah yang layak tanpa mengubah kewajiban suami menjadi beban konsumsi yang tidak sesuai dengan kapasitas ekonominya. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kerangka teoritis dan praktis bagi hakim, mediator, advokat, dan pembuat kebijakan dalam menilai sengketa nafkah kontemporer secara lebih terukur, adil, dan responsif terhadap perubahan gaya hidup keluarga modern.
Downloads
Article Details
References
Abdul Aziz, Iqbal Subhan Nugraha, dan Lukman Hakim, “Post-Divorce Maintenance in Contemporary Islamic Family Law: An Empirical Study of Judges’ Considerations at the East Jakarta Religious Court,” Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam 7, no. 1 (2024): 1–17, https://doi.org/10.33367/legitima.v7i1.6429.
Abdullah Abdullah, Hijrah Hijrah, dan Hery Zarkasih, “Criticizing the Muslim Divorce Tradition in Lombok: An Effort to Control the Women’s Rights,” Justicia Islamica 19, no. 1 (2022): 57–73, https://doi.org/10.21154/justicia.v19i1.3168.
Andi Akram dkk., “Gender Mainstreaming through Guarantees of Legal Protection and Access to Justice for Women and Children in Religious Court,” Jurnal Hukum dan Peradilan 12, no. 2 (2023): 267–292, https://doi.org/10.25216/jhp.12.2.2023.267-292.
Anisa Nur Kanifah dan Lukman Santoso, “Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian Perspektif Hukum Positif dan Teori Tujuan Hukum Gustav Radbruch,” Al-Syakhsiyyah: Journal of Law and Family Studies 6, no. 1 (2024), https://doi.org/10.21154/syakhsiyyah.v6i1.9128.
Azizah, Mohammad Ali Hisyam, dan Omaima Abou-Bakr, “Application of Ex Officio Rights Based on Gender Justice in Divorce Lawsuit in Surabaya Religious Court, Indonesia,” Jurnal Mahkamah: Kajian Ilmu Hukum dan Hukum Islam 8, no. 2 (2023): 187–202, https://doi.org/10.25217/jm.v8i2.4075.
Derita Prapti Rahayu dan Sulaiman, Metode Penelitian Hukum, ed. rev. (Yogyakarta: Thafa Media, 2020).
Dwi Radha Putri Mentari. “Efektivitas Pasal 152 (KHI) Tentang Pemberian Nafkah Iddah Istri Cerai Talak Di Desa Sorinomo Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu.” Al-IHKAM Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram 17, no. 2 (2025): 254–75. https://doi.org/10.20414/alihkam.v17i2.14632.
Fadil Fadil, Zidna Mazidah, dan Zaenul Mahmudi, “Fulfillment of Women’s Rights after Divorce: Dynamics and Transformation in the Legal Journey,” De Jure: Jurnal Hukum dan Syari’ah 16, no. 1 (2024): 1–20, https://doi.org/10.18860/j-fsh.v16i1.25713.
Fathul Mu’in dkk., “Reinterpretation of Livelihoods in Marriage Law and Its Implications on Family Resistance in the Time and Post COVID-19,” SMART: Journal of Sharia, Tradition, and Modernity 1, no. 2 (2021): 113–127, https://doi.org/10.24042/smart.v1i2.10965.
Ferlan Niko, Akbarizan Akbarizan, dan Nurcahaya Nurcahaya, “Batasan Kewajiban Nafkah dalam Upaya Preventif Cerai Gugat: Studi pada Pengadilan Agama Kota Pekanbaru,” Tazkir: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman 11, no. 2 (2025): 251–265, https://doi.org/10.24952/tazkir.v11i2.18515.
Hamdan Arief Hanif dkk., “Nusyuz and Syiqaq in Islamic Law: Concept, Impact, and Methods of Settlement,” VRISPRAAK: International Journal of Law 7, no. 2 (2023): 70–76, https://doi.org/10.59689/vris.v7i2.1150.
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam
Irwansyah dan Ahsan Yunus, Penelitian Hukum: Pilihan Metode & Praktik Penulisan Artikel, ed. rev., cet. 4 (Yogyakarta: Mirra Buana Media, 2021).
Ita Musarrofa dan Holilur Rohman, “’Urf of Cyberspace: Solutions to the Problems of Islamic Law in the Digital Age,” Al-Ahkam 33, no. 1 (2023): 63–88, https://doi.org/10.21580/ahkam.2023.33.1.13236.
Lilik Andar Yuni dan Akhmad Haries, “Protection of Women’s Rights after Divorce in Religious Courts: What Makes This Mission Difficult to Achieve?,” Mazahib: Jurnal Pemikiran Hukum Islam 23, no. 2 (2024): 595–630, https://doi.org/10.21093/mj.v23i2.7958.
M Agus M. Agus dkk., “Reinterpretasi Konsep Nusyuz Dalam Perspektif Maqashid Syariah: Antara Kepatuhan Normatif Dan Keadilan Relasional,” Al-IHKAM Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram 18, no. 1 (2026): 1–25, https://doi.org/10.20414/alihkam.v18i1.15376
Muhammad Irfanudin Kurniawan dan Adi Nur Rohman, “Reasons for Divorce in the Compilation of Islamic Law: An Overview of Islamic Legal Psychology,” KRTHA Bhayangkara 17, no. 3 (2023): 495–504, https://doi.org/10.31599/krtha.v17i3.782.
Muhammad Zilal Haq, “Hubungan Nafkah Madhiyah dan Harta Bersama dalam Pemenuhan Hak Perempuan,” Jurnal Hukum Keluarga dan Administrasi Keperdataan Islam 1, no. 1 (2023), https://doi.org/10.15408/jhk-aki.v1i1.31212.
Muhsan Syarafuddin dkk., “Between Duty, Capacity, and Inability: Post-Divorce Child Support in Indonesian Religious Courts,” Indonesian Journal of Islamic Law 9, no. 1 (2026): 50–70, https://doi.org/10.35719/8sjf7s13.
Mursyid Djawas dkk., “The Alimony Obligation of a Civil Servant and Non-Civil Servant Father towards Children Post-Divorce: The Study on Aceh Syar’iyyah Court Decision Study of 2019,” El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga 6, no. 1 (2023): 91–114, https://doi.org/10.22373/ujhk.v6i1.9493.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 379 K/AG/1995.
Putusan Pengadilan Agama Pati Nomor 158/Pdt.G/2026/PA.Pt.
Rachel Rinaldo, Eva F. Nisa, and Nina Nurmila, “Divorce Narratives and Class Inequalities in Indonesia,” Journal of Family Issues 45, no. 5 (2024): 1195–1216, https://doi.org/10.1177/0192513X231155657.
Ramadhita Ramadhita, Mahrus Ali, dan Bachri Syabbul, “Gender Inequality and Judicial Discretion in Muslims Divorce of Indonesia,” Cogent Social Sciences 9, no. 1 (2023): 2206347, https://doi.org/10.1080/23311886.2023.2206347.
Rita Latassaqia, Sukron Ma’mun, dan Fitrat Umirov, “Safeguarding Women’s Rights in Divorce in Absentia: The Role of Ex Officio Judicial Powers in Iddah Maintenance,” Al-Syakhsiyyah: Journal of Law and Family Studies 8, no. 1 (2026): 69–94, https://doi.org/10.21154/syakhsiyyah.v8i1.13570.
Sanusi Sanusi dkk., “Judges’ Ijtihad on Women’s Rights after Divorce and Its Contribution to Family Law Reform in Indonesia,” SMART: Journal of Sharia, Tradition, and Modernity 3, no. 1 (2023): 1–15, https://doi.org/10.24042/smart.v3i1.16981.
Septi Wulan Sari, “Perbandingan Hukum Keluarga di Indonesia dan Aljazair tentang Nafkah,” AL-MANHAJ: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam 5, no. 1 (2023): 1–10, https://doi.org/10.37680/almanhaj.v5i1.2276.
Shofiatul Jannah dan Roibin Roibin, “The Urgency of Determining the Post-Divorce Iddah Payment Period in Indonesian Religious Courts,” Jurnal Ius Constituendum 8, no. 3 (2023): 424–435, https://doi.org/10.26623/jic.v8i3.7606.
Syukrawati Syukrawati dkk., “Post-Divorce Rights of Women and Children in Pekalongan City, Central Java: Challenges in Islamic Law Analysis,” Al-Ahkam 34, no. 1 (2024): 121–146, https://doi.org/10.21580/ahkam.2024.34.1.20624.
Ulin Na’mah dan Mochammad Agus Rachmatulloh, “Interpretations of Nafkah, Gender Relations, and Motivations for Divorce: A Case Study of Divorce Lawsuits at the Kediri City Religious Court,” Istinbath 23, no. 1 (2024): 17–31, https://doi.org/10.20414/ijhi.v23i1.700.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.